<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kaum Muslim</title>
	<atom:link href="http://kaummuslim.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kaummuslim.net</link>
	<description>Situs Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2010 16:18:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Definisi Zakat Dan Hukum Juga Posisi Zakat</title>
		<link>http://kaummuslim.net/definisi-zakat-dan-hukum-juga-posisi-zakat/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/definisi-zakat-dan-hukum-juga-posisi-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 16:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Definisi Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Zakat]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Tentang Zakat Berikut ini adalah artikel pendek mengenai Zakat, secara etimologi juga terminologi yang di jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti juga sangat berguna untuk dibaca oleh pembaca blog Kaum Muslim yang mungkin belum mengetahui. Dan bahasan ini untuk mengawali kategori Fiqh dan selanjutnya Insya Allah kategori tersebut akan di isi oleh sejumlah hukum-hukum Fiqh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Tentang Zakat</h3>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-67" title="Zakat" src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Zakat.png" alt="Zakat" width="150" height="150" />Berikut ini adalah artikel pendek mengenai Zakat, secara etimologi juga terminologi yang di jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti juga sangat berguna untuk dibaca oleh pembaca blog <a href="http://kaummuslim.net/">Kaum Muslim</a> yang mungkin belum mengetahui. <span id="more-66"></span></p>
<p>Dan bahasan ini untuk mengawali kategori <a href="http://kaummuslim.net/category/fiqh/">Fiqh</a> dan selanjutnya Insya Allah kategori tersebut akan di isi oleh sejumlah hukum-hukum Fiqh</p>
<p>Langsung saja kita baca artikel tentang Zakat, yang saya kutip dari situs <a href="http://zakat.al-islam.com/def/default.asp?l=ind&amp;filename=def/desc/item1/item1/desc1">Zakat Al-Islam</a> dan semoga bermanfaat:</p>
<p><strong>Zakat menurut etimologi</strong></p>
<p>Zakat menurut etimologi berarti, berkat, bersih, berkembang dan baik. Dinamakan zakat karena, dapat mengembangkan dan menjauhkan harta yang telah diambil zakatnya dari bahaya. Menurut Ibnu Taimiah hati dan harta orang yang membayar zakat tersebut menjadi suci dan bersih serta berkembang secara maknawi.</p>
<p><strong>Zakat menurut terminologi</strong></p>
<p>Zakat menurut terminologi berarti, sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah swt. untuk diberikan kepada para mustahik yang disebutkan dalam Alquran. Atau bisa juga berarti sejumlah tertentu dari harta tertentu yang diberikan untuk orang tertentu. Lafal zakat dapat juga berarti sejumlah harta yang diambil dari harta orang yang berzakat.</p>
<p>Zakat dalam Alquran dan hadis kadang-kadang disebut dengan sedekah, seperti firman Allah swt. yang berarti, &#8220;Ambillah zakat (sedekah) dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah buat mereka, karena doamu itu akan menjadi ketenteraman buat mereka.&#8221; (Q.S. At Taubah, 103). Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah saw. ketika memberangkatkan Muaz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda, &#8220;Beritahulah mereka, bahwa Allah mewajibkan membayar zakat (sedekah) dari harta orang kaya yang akan diberikan kepada fakir miskin di kalangan mereka.&#8221; (Hadis ini diketengahkan oleh banyak perawi)</p>
<p>Sampai jumpa di posting-posting saya berikutnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/definisi-zakat-dan-hukum-juga-posisi-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Muslim Wajib Berpendidikan</title>
		<link>http://kaummuslim.net/wanita-muslim-wajib-berpendidikan/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/wanita-muslim-wajib-berpendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 16:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan Untuk Muslimah Berikut ini adalah artikel mengenai kewajiban bagi wanita muslimah untuk memperoleh pendidikan dan menjadi pintar juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak seperti anggapan umum non Muslim bahwa Islam memberangus hak-hak wanita untuk peroleh pendidikan layak sama seperti lelaki. Yang padahal Islam sangat merekomendasikan agar wanita berpendidikan, seperti yang teredaksi dalam hadis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Pendidikan Untuk Muslimah</h3>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-62" title="Wanita Muslimah" src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Wanita-Muslimah.png" alt="Wanita Muslimah" width="150" height="150" />Berikut ini adalah artikel mengenai kewajiban bagi wanita muslimah untuk memperoleh pendidikan dan menjadi pintar juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak seperti anggapan umum non Muslim bahwa Islam memberangus hak-hak wanita untuk peroleh pendidikan layak sama seperti lelaki.</p>
<p>Yang padahal Islam sangat merekomendasikan agar wanita berpendidikan, seperti yang teredaksi dalam hadis Nabi SAW, dan pada kesempatan ini saya ingin berbagi sebuah artikel yang pernah saya tulis sekitar 3 tahun lalu di blog saya yang lain, inilah dia dan silahkan di baca dan semoga bermanfaat:<span id="more-59"></span></p>
<p>Dalam agama Islam pendidikan bukan Cuma sebagai hak, namun kewajiban bagi wanita dan pria.</p>
<p>Nabi Muhammad saw berkata,”Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” <em><span style="text-decoration: underline;">(Diriwayatkan  dalam Al-Bayhaqi dan Ibn-Majah, dikutip oleh M.S. Afifi, Al-Mar’ah Wa  Huququha Fil-Islam (dalam bahasa Arab), Maktabat Al-Nahdhah, Kairo,  Mesir, 1988, h. 71.)</span></em></p>
<p><strong>Kata dari “Muslim” adalah inklusif bagi pria dan wanita.</strong></p>
<p>Dan orang-orang yang beriman,  lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi  sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf,  mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan  mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh  Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. <em><span style="text-decoration: underline;">(Qur’an, 9:71)</span></em></p>
<p>Maka Tuhan mereka memperkenankan  permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan  amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau  perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain<em><span style="text-decoration: underline;">….(Qur’an, 3:195)</span></em></p>
<p><strong>Pembukaan:</strong></p>
<p>Adalah  kewajiban bagi wanita untuk memperoleh pendidikan ilmu agama seperti  shalat, puasa, zakat, haji, sebagaimana kewajiban untuk berdagang dan  bertransaksi. Jika suaminya tidak mampu untuk memberikan padanya ilmu  tersebut, maka wanita tersebut menurut Islam wajib untuk mencarinya.</p>
<p>Shaikh Usman dan Fodio, seorang guru terkenal dari Nigeria mengatakan  dalam Irshad al-Ikhwan,”Jika sisuami tidak mengizinkannya, maka si istri  dibolehkan keluar mencari ilmu tanpa seizinnya, dan tidak ada kesalahan  baginya dan pula tidak dosa baginya karena itu. Peraturan ini  seharusnya mendorong para suami agar mendukung istrinya dalam mencari  ilmu, sewajib bagi suami untuk menafkahi keluarganya, sesungguhnya ilmu  adalah utama (dan wajib dipelihara dan diamalkan)”.<em> </em></p>
<p><em>Dalm  Nur al-Albab, dia menyatakan bahwa para ulama yang menentang pendidikan  bagi kaum wanita adalah para munafik dan “iblis-iblis bersama mereka”.  Dia bertanya:”Bagaimana mereka dapat meninggalkan istri-istrinya,  putri-putrinya dan para pembantunya dalam kebodohan yang gelap dan  kesalahan disaat mereka mengajari murid-muridnya siang dan malam! Ini  tidak lebih hanya sebuah sifat egois mereka, karena mereka mengajar  murid-muridnya untuk pamer dan unjuk kebanggaan, Ini sungguh sebuah  kesalahan besar.”</em></p>
<p><em>Lebih  lanjut dalam buku yang sama dia mengatakan,”Oh kaum muslim! Jangan  dengarkan mereka yang tersesat dan menyesatkan; yang berusaha untuk  menipu kalian untuk mentaati suamimu, tanpa terlebih dahulu memintamu  untuk mematuhi Allah SWT dan Rasulnya. Mereka berkata bahwa kebahagian  wanita tergantung kepatuhannya kepada suami; mereka berkata begitu hanya  ingin memuaskan egonya dan keinginannya kepada kalian. Mereka  memaksakan kalian untuk melakukan hal yang Allah dan Rasulnya tidak  pernah mewajibkanmu, seperti memaska, nyuci baju, dan hal-hal serupa.</em></p>
<p><em>Dalam  kitab al-Irshad. Saykh Dan Fodia juga mengatakan bahwa kaum wanita  wajib menuntut hak-hak mereka untuk memperoleh pendidikan. Wanita  seperti pria, diciptakan dengan satu maksud, yaitu untuk menyembah  Allah, yang hal itu mustahil tercapai tanpa ilmu yang benar. “Sudahkah  kaum wanita menuntut hak-hak kepada suami mereka dalam urusan agama dan  membawa kasusnya kepengadilan, dan menuntut agar suaminya mendidiknya  dalam urusan agama dan memberikan izin kepada para istri keluar untuk  belajar, ini seharusnya merupakan kewajiban bagi penegak hukum untuk  memaksa para suami untuk meluluskan hal-hal tersebut sebagaimana  kewajiban para suami untuk memberi nafkah dan hak-hak dunia lainnya,  karena hak-hak keagamaan adalah paling utama dan dilebihkan.”</em></p>
<p><em>Beliau  juga memberi pertanyaan dalam kitab al-Irshad: Menurut hukum, wanita  harus mencari ilmu yang tidak didapatinya dari suami mereka; haruskah  para ulama yang tidak dapat mengatur posisi duduk yang aman dimajlis  taklimnya yang murid-muridny terdapat pria dan wanita kaluar ketempat  terbuka dan mengajari Islam, karena mengetahui bahwa kaum wanita wajib  hukum untuk belajar? Dia berkata,”Dia harus kelur, namun tetap dia harus  mencegah campurny pria dan wanita, jika hal tersebut terjadi didepan  kehadirannya, maka ia harus memisahkan pria disatu sisi dan wanita  disisi yang lainnya.”</em></p>
<p><em>Maka  wanita muslim mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan dari suaminya  dan jika (karena tidak semua para suami adalah seorang ahli agama, dan  tidak selalu tahu), diizinkan keluar untuk mencari ilmu! Dan ini diakui  oleh hampir semua ulama terkemuka.</em></p>
<p><em>Ulama Muslim masa awal Mazhab Fiqh Maliki dalam buku Ibn al-Hajj menulis:</em></p>
<p><em>Jika  seorang wanita menuntut haknya untuk belajar ilmu agama kepada suaminya  dan membawa kasus tersebut kepada hakim, tuntutannya dibenarkan karena  adalah haknya untuk dididik ilmu oleh suaminya atau mengizinkannya  keluar mencari ilmu dimanapaun. Sang hakim harus memaksa suaminya untuk  meluluskan tuntutan sang istri seperti kewajibannya untuk memenuhi  kebutuhan materi sang istri, karena hak-hak istri dalam urusan agama  adalah hal yang paling esensi dan paling utama.”</em></p>
<p><em><span style="text-decoration: underline;"><br />
( <strong>Sumber: </strong> Islam The Empowering of Women (by Aisha Bewley) , halaman 17 &amp; 18)</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/wanita-muslim-wajib-berpendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Tega Mencaci Al-Quran Dan Sahabat Nabi?</title>
		<link>http://kaummuslim.net/mengapa-tega-mencaci-al-quran-dan-sahabat-nabi/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/mengapa-tega-mencaci-al-quran-dan-sahabat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 15:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[SPILIS]]></category>
		<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pandora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Tega Mencaci Al-Quran Dan Sahabat Nabi? Ini merupakan tulisan bapak Adian Husaini berjudul Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi? yang dapat anda temui di blog pribadi miliknya di sini. Dalam artikel singkat ini bapaka Adian membeberkan secara gamblang keinginan pada pengusung SPILIS untuk men-desakral dan deskontruksi Al Quran, dengan harapan umat Islam tidak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Tega Mencaci Al-Quran Dan Sahabat Nabi?</h3>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-54" title="Haram Spilis" src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Haram-Spilis.png" alt="Haram Spilis" width="150" height="150" />Ini merupakan tulisan bapak Adian Husaini berjudul <em>Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?</em> yang dapat anda temui di blog pribadi miliknya <a href="http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=77:mengapa-tega-mencaci-al-quran-dan-sahabat-nabi&amp;catid=34:cap&amp;Itemid=53">di sini</a>. Dalam artikel singkat ini bapaka Adian membeberkan secara gamblang keinginan pada pengusung SPILIS untuk men-desakral dan deskontruksi Al Quran, dengan harapan umat Islam tidak lagi mengagungkan kitab suci Al Quran seperti sekarang.</p>
<p>Sehingga mudah bagi mereka untuk menyuntikan faham-faham sekularisme pluralisme dan liberalisme (SPILIS) yang secara esensi sangat bertentangan dengan Islam.<span id="more-53"></span></p>
<p>Memang itulah yang harus di lakukan pengusung SPILIS untuk meng-goalkan tujuan mereka, jika umat Islam tidak lagi menganggap Al Quran sebagai kitab suci, maka akan jauh lebih mudah untuk di kontaminasi dengan kebebasan ala mereka yang di kampanyekan dengan slogan &#8220;Pencerahan&#8221; dan &#8220;Kebebasan Berfikir&#8221;.</p>
<p>Jika umat Islam sudah merasa diri mereka harus berfikir bebas maka tidak ada batasan lagi bagi mereka untuk menuhankan akal dan memenjarakan diri mereka dengan akalnya. Karena akal sebenarnya penuh keterbatasan, dia akan berhenti pada titik tertentu dan jika dipaksakan maka seorang manusia akan melahirkan buah-buah fikiran yang keblinger seperti Sumanto Al Qurthubi penulis buku &#8220;Lobang Hitam Agama” (2005)&#8221;, dimana ia tidak segan-segan mencela Al Quran juga sahabat Nabi. Sebaiknya langsung saja kita baca artikel Adian Husaini ini:</p>
<h3>Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?</h3>
<p>Sebagian pendukung paham sekularisme dan liberalisme mungkin tidak sadar, bahwa penyebaran paham ini sejatinya bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi. Paham ini – yang biasanya berlindung dibalik jargon “pencerahan” dan “kebebasan berpikir” – menyimpan agenda-agenda dahsyat berupa penghancuran agama itu sendiri. Liberalisasi yang tanpa kendali telah terbukti menjadi senjata pemusnah masal buat agama-agama.</p>
<p>Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema sekularisasi dan liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi Kitab Suci”. Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Quran. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, yang bebas dari kesalahan.</p>
<p>Sebagaimana kita bahas dua pekan lalu, sekarang sudah banyak orang dari kalangan Muslim sendiri yang bekerja keras untuk meruntuhkan otentisitas al-Quran sebagai Kitab Suci umat Islam. Ibarat dalam satu peperangan, para penghujat al-Quran ini laksana menikam kaum Muslimin dari belakang. Diantara tulisan-tulisan itu ada yang dikemas halus dan cukup ilmiah, sehingga tidak mudah bagi kebanyakan kaum Muslim untuk mengkritiknya. Tapi, ada juga penulis yang menggunakan bahasa yang kasar dan caci maki terhadap al-Quran, para sahabat, dan para ulama Islam.</p>
<p>Dalam acara bedah buku Prof. Musthafa A’zhami, The History of The Quranic Text, di Universitas Islam Negeri Jakarta, 12 Mei 2005, saya menunjukkan beberapa buku yang kini tersebar bebas dan secara terang-terangan menyerang kesucian al-Quran. Beberapa diantaranya sudah kita ungkap dalam catatan terdahulu.  Ada satu buku lagi berjudul “Lobang Hitam Agama” (2005) yang secara terbuka mencaci maki al-Quran dan para sahabat Nabi. Di dalam buku ini tertulis kalimat-kalimat sebagai berikut:</p>
<p>“Bahkan sesungguhnya hakikat al-Quran bukanlah “teks verbal” yang terdiri atas 6666 ayat bikinan Usman itu melainkan gumpalan-gumpalan gagasan.” (hal. 42).</p>
<p>“Al-Quran bagi saya hanyalah berisi semacam “spirit ketuhanan” yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi.” (hal. 42).</p>
<p>‘Oleh karena itu, Nabi, sahabat, dan pengalaman komunitas Mekkah dan Madinah (tajribatul madinah wa makkah) pada hakikatnya adalah “co-author” karena ikut “menciptakan” al-Quran.” (hal. 43).</p>
<p>“Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi al-Quran dalam hal “keangkerannya” tentunya.” (hal. 64).</p>
<p>“Al-Quran, sehingga menjadi “Kitab Suci” (sengaja saya pakai tanda kutip) juga tidak lepas dari peran serta “tangan-tangan gaib” yang bekerja di balik layar maupun diatas panggung politik kekuasaan untuk memapankan status al-Quran. Dengan kata lain, ada proses historis yang amat pelik dalam sejarah pembukuan al-Quran hingga teks ini menjadi sebuah korpus resmi yang diakui secara konsensus oleh semua umat Islam. Proses otorisasi sepanjang masa terhadap al-Quran menjadikan kitab ini sebuah scripto sacra yang disanjung, dihormati, diagungkan, disakralkan dan dimitoskan. Padahal sebagian dari proses otorisasi itu berjalan dan berkelindan dengan persoalan-persoalan politik yang murni milik Bangsa Arab. Bahkan proses turunnya ayat-ayat al-Quran sendiri tidak lepas dari “intervensi” Quraisy sebagai suku mayoritas Arab.” (hal. 65)</p>
<p>“Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan, al-Quran, dalam batas tertentu, adalah “perangkap” yang dipasang bangsa Quraisy (a trap of Quraisy).” (hal. 65).</p>
<p>“Kita tahu, al-Quran yang dibaca oleh jutaan umat Islam sekarang ini adalah teks hasil kodifikasi untuk tidak menyebut “kesepakatan terselubung” antara Khalifah Usman (644-656M) dengan panitia pengumpul yang dipimpin Zaid bin Tsabit, sehingga teks ini disebut Mushaf Usmani.” (hal. 65).</p>
<p>“Maka, penjelasan mengenai al-Quran sebagai “Firman Allah” sungguh tidak memadai justru dari sudut pandang internal, yakni proses kesejarahan terbentuknya teks al-Quran (dari komunikasi lisan ke komunikasi tulisan) maupun aspek material dari al-Quran sendiri yang dipenuhi ambivalensi. Karena itu tidak pada tempatnya, jika ia disebut “Kitab Suci” yang disakralkan, dimitoskan.” (hal. 66)</p>
<p>“Dalam konteks ini, anggapan bahwa al-Quran itu suci adalah keliru. Kesucian yang dilekatkan pada al-Quran (juga kitab lain) adalah “kesucian palsu” – pseudo sacra. Tidak ada teks yang secara ontologis itu suci.” (hal. 67).</p>
<p>“Setiap teks memiliki keterbatasan sejarah. Karena itu, setiap generasi selalu muncul “agen-agen sejarah” yang merestorasi sebuah teks. Musa, Jesus, Muhammad Sidharta, Lao Tze, Konfusius, Zarasthutra, Martin Luther, dan lainnya adalah sebagian kecil dari contoh agen-agen sejarah yang melakukan restorasi teks. Tapi produk restorasi teks yang mereka lakukan bukanlah sebuah “resep universal” yang shalih likulli zaman wa makaan (kompatibel di setiap waktu dan ruang). Mereka tidak hadir di ruang hampa, mereka datang di tengah-tengah kehidupan manusia yang beragam dengan cita rasa yang berlainan pula. Jika mereka sudah melakukan restorasi teks atas teks sebelumnya, maka generasi pasca mereka mestinya melakukan hal yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan: restorasi teks. Berpegang teguh secara utuh terhadap sebuah teks sama saja dengan berpegangan barang rongsokan yang sudah usang.” (hal. 70-71).</p>
<p>Begitulah tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku yang terbit di Yogyakarta tersebut. Ajaibnya, buku seperti ini mendapat pujian berbagai tokoh. Dr. Moeslim Abdurrahman, cendekiawan Muhammadiyah menulis bahwa buku ini, “perlu dibaca oleh siapa saja yang ingin ber-taqarrub untuk mencari kebenaran.”</p>
<p>Ahmad Tohari, budayawan, penulis kolom resonansi di Harian Republika, juga menulis, “Buku ini menawarkan ruang luas bagi pemahaman agama yang manusiawi karena asas pluralisme yang diusungnya.” Penulis buku ini juga disebut dibagian awal buku sebagai ‘pemikir muda Indonesia “paling menonjol” saat ini, terutama dalam bidang sosiologi agama’. Dalam pengantar buku, seorang Direktur Freedom Institute, menyebutkan, bahwa buku ini perlu diapresiasi dan disambut dengan baik.</p>
<p>Tentu saja, kita patut mengapresiasi dan menyambut baik semua karya-karya ilmiah yang bermutu tinggi, yang didukung dengan data-data yang baik dan jujur.</p>
<p>Tetapi, kita juga wajib menguji dan menilai, apakah memang buku semacam ini   merupakan buku ilmiah yang layak diperhitungkan. Jika ditelaah secara cermat, banyak isi buku ini yang lebih merupakan khayalan, luapan emosi, dendam, dan kemarahan penulisnya. Misalnya, di bagian awal bukunya, penulis menyebutkan: “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil  menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!”</p>
<p>Bukankah cerita seperti ini hanya sebuah khayalan dan fantasi? Sorga yang sudah dikunjungi si penulis?</p>
<p>Lihatlah, juga, dalam memandang al-Quran, penulis menggunakan nada-nada kecaman keras dan penghinaan kepada Sayyidina Usman r.a. Padahal, tindakan beliau dalam memprakarsai penghimpunan al-Quran diakui dan dihormati oleh kaum Muslimin. Semua sahabat Nabi ketika itu menyetujuinya. Bahkan, Sayyidina Ali r.a. yang memiliki Mushaf pribadi juga menyatakan: “Demi Allah, dia (Utsman r.a.) tidak melakukan apa-apa dengan Mushaf tersebut, kecuali dengan persetujuan kami semua.”</p>
<p>Ulama besar Abu ‘Ubayd juga pernah berkata: “Usaha Utsman (r.a.) mengkodifikasi al-Quran akan tetap dan sentiasa dijunjung tinggi, karena hal itu merupakan sumbangannya yang paling besar. Memang dikalangan orang-orang yang menyeleweng ada yang mencelanya, namun kecacatan merekalah yang tersingkap, dan kelemahan merekalah yang terbongkar.”</p>
<p>Jika memang Mushaf Utsmani terkait dengan rekayasa politik Utsman r.a. untuk mengokohkan kedudukannya dan kedudukan kaum Quraisy, maka logikanya, sepeninggal beliau, tentunya akan datang silih berganti penguasa-penguasa yang membuat Mushaf baru. Sepeninggal Bani Umayyah, mestinya Bani Abbasiyah juga membuat al-Quran baru. Begitu juga Bani Batimiyah, Bani Utsmaniyah, dan seterusnya. Tapi, semua ini tidak terjadi dalam sejarah kaum Muslimin. Bagaimana pun kerasnya pertentangan politik, tidak sampai mereka terpikir untuk membuat al-Quran baru, menghujat Sayyidina Utsman, apalagi menghinanya.</p>
<p>Ketika kita mendiskusikan buku Prof. A’zhami yang begitu serius dan berkualitas ilmiah tinggi, lalu kita membaca buku “Lobang Hitam Agama” ini, tampak dengan jelas, bagaimana rendahnya kualitas ilmiah buku ini. Entah apa yang menyebabkan penulis buku ini seperti menyimpan dendam dan kebencian yang begitu besar terhadap al-Quran dan sahabat Nabi Muhammad saw yang mulia. Padahal, penulis yang alumnus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini begitu hormat terhadap seorang orientalis bidang al-Quran bernama Arthur Jeffery, dan mengutip pendapatnya tanpa kritis. (hal. 65).</p>
<p>Jika dengan Jeffery dia begitu hormat, ternyata tidak sebaliknya dengan para sahabat, khususnya Sayyidina Utsman. Padahal, sudah begitu banyak kajian kritis terhadap karya-karya Arthur Jeffery tentang al-Quran. Prof. A’zhami sendiri dalam bukunya banyak memberikan kritik-kritik dan membongkar kekeliruan Jeffery. Tetapi, penulis yang dipuji-puji sebagai pemikir muda yang menonjol ini tidak mempedulikan studi kritis semacam itu, dan lebih suka melampiaskan hawa nafsunya untuk “menghabisi” Mushaf Usmani.</p>
<p>Kita sebenarnya sangat berharap munculnya pemikir-pemikir muda muslim yang jujur, ikhlas, tawadhu’, dan serius dalam kajiannya. Jika penulis ini berpendapat bahwa Rasulullah saw adalah yang menyusun redaksi al-Quran, mestinya dia menyertakan bukti-buktinya. Bukankah pendapat ini adalah tidak lebih dari sebuah khayalan?</p>
<p>Berwacana memang tidak dilarang. Tetapi, menyebarkan pemikiran-pemikiran yang salah, mengandung konsekuensi tanggung jawab yang berat di akhirat nanti. Karena itu, kita mengingatkan, semoga penulis buku itu bertobat dan mengaji yang serius dan ikhlas tentang Islam.</p>
<p>Sayang sekali jika potensi akal cerdas yang diberikan oleh Allah SWT justru digunakan untuk menyesatkan umat manusia. Kasihan dirinya, kasihan orang tuanya yang nantinya hanya mengharapkan doa dari anak yang shalih, bukan anak yang salah. Jika ada gagasan baru, sebaiknya gagasan ini didiskusikan secara terbatas, dikaji mendalam, dikonsultasikan dengan para ulama yang otoritatif dalam keilmuan, sebelum dilemparkan keluar. Wallahu a’lam. (Jakarta, 13 Mei 2005)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/mengapa-tega-mencaci-al-quran-dan-sahabat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Pertentangan Antara Wahyu Dan Akal</title>
		<link>http://kaummuslim.net/tidak-ada-pertentangan-antara-wahyu-dan-akal/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/tidak-ada-pertentangan-antara-wahyu-dan-akal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 14:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[SPILIS]]></category>
		<category><![CDATA[Akal]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Yusuf Qaradhawi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Wahyu Dan Akal Saling Bertentangan? Berikut ini adalah tulisan Dr. Yusuf Qaradhawi mengenai korelasi antara wahyu dan akal, belum mencoba menjelaskan hubungan tidak terpisahkan antara keduanya. Wahyu justru mengajak manusia untuk menggunakan akal dan fikiran, sehingga dapat seorang penganut agama dapat mempelajari, memahami pula mengamalkan ajaran dari wahyu tersebut. Tidak sampai disitu saja, Dr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Apakah Wahyu Dan Akal Saling Bertentangan?</h3>
<p><img src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Wahyu-Dan-Akal.png" alt="Wahyu Dan Akal" title="Wahyu Dan Akal" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-48" />Berikut ini adalah tulisan Dr. Yusuf Qaradhawi mengenai korelasi antara wahyu dan akal, belum mencoba menjelaskan hubungan tidak terpisahkan antara keduanya. Wahyu justru mengajak manusia untuk menggunakan akal dan fikiran, sehingga dapat seorang penganut agama dapat mempelajari, memahami pula mengamalkan ajaran dari wahyu tersebut.<span id="more-46"></span></p>
<p>Tidak sampai disitu saja, Dr. Yusuf Qaradhawi juga membawa pendapat sejumlah ulama untuk mendukung argumennya. Dan memang untuk memahami ajaran agama di perlukan akal tanpanya mana mungkin kita dapat memahami juga memecahkan masalah-masalah kita hadapi, sehingga dapat di mengerti jika para muhaqqin menganggap bahwa pembimbing manusia menuju yang haq adalah wahyu dan akal.</p>
<p>Baik langsung saja kita membaca tulisan Dr. Yusuf Qaradhawi berjudul <strong>Tidak Ada Pertentangan antara Wahyu dan Akal</strong></p>
<p> Sangkaan sebagian penulis bahwa bi’ah diniah  (iklim keagamaan) tidak cocok bagi iklim ilmu karena adanya pertentangan keduanya adalah tidak benar. Beberapa nash agama, sejarah dan realita menolak sangkaan ini.</p>
<p>Nash agama justru menyeru dan mengajak bicara kepada akal. Seseorang dipandang sebagai mukalaf (dikenai perintah dan larangan agama) karena memiliki kemampuan untuk memahami, dan mendapat tugas untuk mengamalkannya dan berijtihad terhadap maksudnya serta diseru untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak ada nash dan pernjalasannya.</p>
<p>Wahyu telah menyerahkan kepada akal persoalan dunia agar ditangani secara bebas.</p>
<p>Para muhaqqiqin dari ulama umat ini memandang wahyu dan akal sebagai dua pemandu mahluk menuju haq.</p>
<p>Imam Raghib Al-sfahani Rahimahullah dalam kitabnya yang berbobot. Adz-Dzari’ah Ila Makaarim Asy-Syari’ah telah berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla mengutus dua utusan untuk mahluk-Nya, dari alam bathin yaitu akal dan dari alam lahir, yaitu rasul. Seseorang tidak akan dapat manfaat dari rasul lahir jika ia tidak terlebih dahulu memanfaatkan rasul bathin karena yang bathinlah yang mengetahui kebenaraan seruan yang lahir. Tanpanya, hujjah/keterangan tidak wajib diterima. Oleh karena itu, orang akan meragukan wahdani’yah-Nya dan nubuwah para nabi-Nya disuruh Allah untuk menggunakan akalnya.</p>
<p>Dengan demikian, maka akal adalah pemandu, sedang agama adalah penolong. Tanpa akal, agama akan lenyap dan tanpa agama, akal akan bingung. Gabungan keduanya disebut oleh Allah Azza wa Jalla sebagai “Nuurun ‘al Nuurin”, cahaya di atas cahaya (An Nuur:35).1</p>
<p>Penuturan Ar-Raghib ini dipertegas oleh ulama sezamannya, yaitu Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam sejumlah bukunya. Dalam kitabnya Al-Mustashfa misalnya, Al-Ghazali memandang akal sebagai hakim yang tidak dapat digeser dan diganti, sedang syariat adalah pemberi rekomendasi, pemandu dan pembimbingnya. Syari’at menjadikan akal sebagai pengemban agama dan pemikul amanah. 2</p>
<p>Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali mengatakan bahwa syari’ah (agama) dan akal itu satu sama lain saling membutuhkan.</p>
<p>“Ilmu akal itu bagaikan makanan sedang ilmu syari’ah itu laksana obat. Orang yang sakit jika tidak diberi obat akan bahaya karena makanan.”</p>
<p>Imam Al-Ghazali menolak anggapan bahwa ilmu akal itu kontradiksi dengan ilmu syari’ah. Anggapan ini datang dari orang yang buta tentang hakikat akal.3</p>
<p>Kemudian dalam kitabnya Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad, Al-Ghazali mengatakan bahwa kelompok haq dan Ahlus Sunnah ialah mereka yang berjalan di antara tuntutan syari’ah dan akal dan yang yakin bahwa antara syar’at (wahyu) dan kebenaran rasional tidaklah bertentangan.4</p>
<p>Dalam kitab Ma’arij Al-Quds yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali ada keterangan sebagai berikut,</p>
<p>“Ketahuilah bahwa akal tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan syari’ah, dan syari’at tidak akan jelas kecuali dengan akal. Akal seperti fondasi, sedang syari’at adalah bangunannya. Keduanya saling menghajatkan.”</p>
<p>Akal juga bagaikan mata, sedang syari’at adalah lampu. Mata/pandangan tidak berguna tanpa lampu/cahaya, begitu juga lampu tanpa mata. Syari’at adalah akal yang ada di luar, sedangkan akal adalah syari’at yang ada di dalam. Keduanya tidak dapat dipisahkan.5</p>
<p>Oleh karena itu, sejarah kita tidak mengenal apa yang dikenal oleh sejarah Barat, yaitu pertentangan antara akal/ilmu dengan wahyu/agama. Bahkan tidak sedikit dari ulama kita yang selain pakar ilmu syari’ah juga ahli ilmu alam.</p>
<p>Kita mengenal Ibnu Rusyd Al-Hafidz (th 595 H). Ia seorang penghulu filosof, seorang pengurai terbesar filsafat Aristoteles. Melalui uraian-uraiannya, Barat mengenal Aristoteles dan mendapatkan pandangan-pandangannya.</p>
<p>Ibnu Rusyd Al-Hafidz adalah pengarang buku Al-Kulliyaat yang sangat populer dalam kedokteran yang telah diterjemahkan ke bahasa latin dan menjadi rujukan Barat selama beberapa abad dan bahkan menjadi salah satu refrensi dunia kedokteran tingkat internasional saat itu. Dalam waktu bersamaan, ia juga seorang qadhi (hakim), pakar fiqh madzhab Maliki yang menulis kitab Bidayatul-Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, sebuah kitab fiqh perbandingan madzhab yang paling dalam kupasannya dan paling bermanfaat karena sistematikanya yang mempunyai keunggulan.</p>
<p>Juga Muhammad bin Abu Bakar Al-Khawarizmy, penemu ilmu aljabar, namun ia pun tergolong ulama fiqh. Ia menyususn ilmu aljabar untuk memecahkan berbagai masalah dalam pengaplikasian fiqh, terutama berkenaan dengan ilmu waris dan wasiat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/tidak-ada-pertentangan-antara-wahyu-dan-akal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalam Islam: Bolehkah Suami Memukul Istri</title>
		<link>http://kaummuslim.net/dalam-islam-bolehkah-suami-memukul-istri/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/dalam-islam-bolehkah-suami-memukul-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 23:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab]]></category>
		<category><![CDATA[Mukul Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Nusyuz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Bolehkah suami memukul istrinya menurut ajaran Islam? Isu dan pertanyaan diatas memang persoalan yang perlu dijawab, dikarenakan begitu cukup sering ditanyakan dan tidak hanya itu mereka yang berusaha mencari kelemahan Islam sering menjadikan masalah ini sebagai sasaran empuk untuk mendeskriditkan agama Islam. Mereka membuat judul yang heboh: &#8220;Islam memperbolehkan memukuli istri!&#8221; kemudian di hiasi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Bolehkah suami memukul istrinya menurut ajaran Islam?</h3>
<p><img src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Islam-Melarang-Memukul-Isteri.png" alt="Islam Melarang Memukul Istri" title="Islam Melarang Memukul Isteri" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-36" />Isu dan pertanyaan diatas memang persoalan yang perlu dijawab, dikarenakan begitu cukup sering ditanyakan dan tidak hanya itu mereka yang berusaha mencari kelemahan Islam sering menjadikan masalah ini sebagai sasaran empuk untuk mendeskriditkan agama Islam. <span id="more-31"></span></p>
<p>Mereka membuat judul yang heboh: <strong>&#8220;Islam memperbolehkan memukuli istri!&#8221;</strong> kemudian di hiasi dengan gambar-gambar mengerikan dimana sang suami memegang cambuk atau kayu balok ditangan untuk mengayunkannya kepada sang istri yang terlihat ketakutan dan menahan sakit.</p>
<p>Kondisi diatas tidaklah sehat, dikarenakan tujuan si penulis semata-mata ingin menjatuhkan agama Islam tanpa pengetahuan yang benar dan tidak memiliki tujuan yang baik. Memang benar tertulis dalam dalam Al Quran dimana Allah SWT memerintahkan: &#8220;Pukullah!&#8221;</p>
<p>Perintah &#8220;Pukullah&#8221; pada Surat An Nisaa ayat 34 di peruntukan bagi istri yang melakukan Nusyuz. Nusyuz adalah kondisi dimana sang istri melakukan pelanggaran terhadap perintah dan larangan suami dan meninggalkan kewajiban berumah tangga secara mutlak.</p>
<p>Nusyuz adalah petaka bagi bahtera rumah tangga, bahtera itu akan karam ditengah laut jika dibiarkan. Dan Islam tidak menginginkan hal tersebut terjadi, karenanya agama Allah SWT ini menyediakan regulasi agar hal tersebut tidak terjadi. &#8220;Pukullah&#8221; semata-mata merupakan tindakan <em>mendisiplikan</em> bukan untuk <em>menzhalimi</em> istri.</p>
<p>Dan Allah SWT menyediakan empat solusi yang berurutan untuk menangani istri Nusyuz, dan pukulah merupakan langkah ke 3 BUKAN pertama:</p>
<blockquote><p>Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (An Nisaa 4:34).</p></blockquote>
<p>Pukullah dilakukan setelah menasehati kemudian pisah ranjang. Jika tindakan &#8220;Pukullah&#8221; terjadi itu membuktikan si istri benar-benar sudah <em>kelewatan</em> dan tindakan fisik pada tahapan ini diperlukan demi menjaga keutuhan rumah tangga, namun ingat bukan menghajarnya habis-habisan seperti gambar-gambar propaganda anti Islam.</p>
<p>Karena di dalam Islam tidak dibenarkan menyiksa istri, seperti yang di contohkan oleh prilaku dan anjuran Nabi Muhammad SAW agar setiap suami berlaku baik kepada istrinya:</p>
<blockquote><p>Di riwayatkan oleh Mu’awiyah al-Qushayri: “Saya mendatangi Rasulullah (saw) dan menanyakannya: Apakah tuntunan baginda berkenaan masalah istri? Nabi menjawab: Berikan mereka makanan seperti yang engkau makan, berikan pakaian seperti yang engkau pakai, dan <strong>jangan kamu pukul mereka</strong>, dan jangan mencaci-maki mereka. (Sunan Abu-Dawud, Kitab 11, Nikah, nomor 2139)</p></blockquote>
<blockquote><p>Diriwayatkan oleh Mu’awiyah ibn Haydah:”Saya bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana saya harus mendekati istri-istri kami dan bagaimana saya seharusnya meninggalkan mereka? Nabi menjawab: …..<strong>jangan engkau mencaci-maki mereka, dan jangan pula memukul mereka</strong>. (Sunan Abi Dawud, kitab 11, Nikah, Nomor 2138)”
</p></blockquote>
<blockquote><p>
“Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah”. (HR. Abu Dawud)</p></blockquote>
<p>Rasulullah SAW mengisyaratkan sebaik-baiknya kaum Mukmin adalah yang terbaik pada istri-istrinya:</p>
<blockquote><p>“Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istri-istrinya”. (HR. At-Tirmidzi)</p></blockquote>
<p>Rasulullah SAW juga menganjurkan agar setiap suami bersabar bahkan terhadap prilaku buruk istrinya:</p>
<blockquote><p>“Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub a.s atas kesabarannya menanggung penderitaan.&#8221; (HR. Nasa`i dan Ibnu Majah)</p></blockquote>
<p>Dan juga prilaku sabar Rasulullah terhadap istrinya:</p>
<blockquote><p>
Beliau lebih memilih untuk tidur diluar rumah daripada membangunkan istrinya ketika pulang terlalu malam, dan Beliau tidak pernah menjadi marah apabila makanan belum tersedia. Dari salah satu kisah, disebutkan bahwa pada suatu pagi Rasulullah bertanya kepada Aisyah apakah makanan sudah tersedia. Aisyah menjawab bahwa ia belum mempersiapkan makanan untuk pagi itu. Dengan sabarnya, Rasul hanya berkata bahwa ia akan berpuasa saja pada hari itu. Rasul tidak sedikitpun menjadi kecewa ataupun marah akan keadaan tersebut. Rasulullah bahkan pernah berkata: “sebaik2 lelaki adalah lelaki yang paling baik dan lemah lembut terhadap istrinya.”</p></blockquote>
<p>Juga mengenai ayat-ayat suci Al Quran yang menyerukan berlaku baik kepada istri:</p>
<blockquote><p>“Bergaullah kalian dengan para istri secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisa`: 19)</p></blockquote>
<blockquote><p>“Bertakwalah kepada Allah dalam perihal wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Alah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf”. (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah SWT sudah sewajarnya mengikuti perintah Islam untuk berlaku baik, bersabar dan memuliakan istrinya seperti yang di contohkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab RA saat ia ditanya kenapa ia diam saja saat di marahi istrinya:</p>
<blockquote><p>Tahukah kamu seberapa berat beban yang harus dia tanggung, setelah dia membersihkan seisi rumah sendiri, memasak untuk diriku, merawat dan mendidik anak-anakku.</p>
<p>Semua dia lakukan sendiri karena saya tidak bisa membayar pembantu untuk meringankan bebannya, padahal semua itu adalah tugas saya. Memuliakan seorang istri di dalam rumahnya adalah tugas suami. Tapi saya terlalu miskin menggaji pembantu sehingga dia harus mengerjakan semua sendiri. Untuk itu hanya sekedar di omeli saja kenapa saya harus marah, demi melihat pengorbanannya kepada keluarga. (Umar Ibn Khattab RA)</p></blockquote>
<p>Melihat semua perintah mulia agama Islam dan hadis juga tindakan nabi Muhammad SAW perihal berbuat baik dan memuliakan istri, maka masuk akalkah dengan anggapan bahwa Islam memerintahkan memukuli istri dengan sadis seperti yang di propaganda-kan oleh anti-Islam?</p>
<blockquote><p>Anda bisa membaca artikel lainnya mengenai tema yang sama di: <a href="http://abibakarblog.com/polemik/dalam-pandangan-islam-bolehkah-memukul-istri/">Dalam Islam Bolehkan memukul istri</a>, namun bahasannya berbeda. Silahkan mampir kesana untuk menambah wawasan dan wacana. Dan semoga bermanfaat dan sampai jumpa di posting-posting saya berikutnya!</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/dalam-islam-bolehkah-suami-memukul-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Muslim Benci Amerika?</title>
		<link>http://kaummuslim.net/kenapa-muslim-benci-amerika/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/kenapa-muslim-benci-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 19:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjawab]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Benci Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Muslim membenci Amerika? Pertanyaan diatas sering kita temui, bahkan tidak sampai disitu, biasanya si penanya (yang umumnya non Muslim) melanjutkan &#8220;Nih internet yang elu pake yang buat Amerika, tuh komputer elo yang buat Amerika&#8230;dan seterusnya&#8221;. Mereka seolah berusaha menyadarkan kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan membenci Amerika atau juga menempatkan kita sebagai seorang munafik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Apakah Muslim membenci Amerika?</h3>
<p><img src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Anti-Amerika.png" alt="Anti Amerika" title="Anti Amerika" width="150" height="150" class="alignleft size-full wp-image-27" />Pertanyaan diatas sering kita temui, bahkan tidak sampai disitu, biasanya si penanya (yang umumnya non Muslim) melanjutkan &#8220;Nih internet yang elu pake yang buat Amerika, tuh komputer elo yang buat Amerika&#8230;dan seterusnya&#8221;. <span id="more-23"></span></p>
<p>Mereka seolah berusaha menyadarkan kita bahwa <em>sebenarnya tidak ada alasan membenci Amerika</em> atau <em>juga menempatkan kita sebagai seorang munafik, benci tapi tetep gunakan produknya</em>.</p>
<p>Pada kenyataannya umat Islam tidak membenci Amerika, sama sekali tidak! Kenapa kami harus membenci Amerika, apa alasannya? Mungkin bantahan saya mengherankan anda, terlebih lagi anda melihat banyak orang Islam (biasanya di labelkan ekstrim) berdemo menentang Amerika dan membenci Amerika.</p>
<p>Sekarang saya balik bertanya kepada anda, apakah yang mereka benci? Amerika atau pemerintahan Amerika? Jika anda seorang yang sering membaca berita tentu tahu, bahwa yang dibenci adalah kebijakan luar negeri dari pemerintah Amerika khususnya dalam hal menangangi konflik Palestina-Israel, juga agresi militer ke negara-negara Muslim dengan alasan yang tidak terbukti &#8211; contoh WMD (Weapon Of Mass Destruction = Senjata Pemusnah Massal) hingga kini tidak ditemukan.</p>
<p>Karena alasan-alasan itulah, maka anda temui sikap permusuhan kami terhadap Amerika &#8211; namun bukan kepada rakyat Amerika. Saya pribadi tidak membenci orang Amerika, bahkan selama beberapa tahun terakhir ini saya banyak berinteraksi dengan mereka untuk tujuan bisnis, salah satu interaksi saya, ialah blog Kaum Muslim ini menggunakan hosting dari Amerika. Dan saya juga sering mengadakan komunikasi lewat IM dengan mereka untuk masalah teknis web hosting, mereka baik dan ramah &#8211; tidak ada alasan saya membenci mereka &#8211; untuk apa?</p>
<p>Rakyat Amerika pun sekarang telah menyadari kekeliruan pemerintah mereka, khususnya kebijakan luar negeri mereka, yang sering membangkitkan amarah negara-negara lain &#8211; dalam konteks ini negara Muslim. Dan mereka sadar, bahwa serangan fisik berupa bom dari Muslim kenegaranya bertujuan merespon tindakan kebijakan negara paman Sam itu:</p>
<blockquote><p>Why do they hate us? Most Americans seemed to believe that it was because we are such nice people. But the Times Square bomber reminds us that terrorism is mostly a response to U.S. government policies Sumbe: <a href="http://www.huffingtonpost.com/doug-bandow/terrorism-why-they-want-t_b_631942.html">HuffingTonPost</a></p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<blockquote><p>Kenapa mereka membenci kita? Kebanyakan orang Amerika percaya karena mereka adalah orang baik. Namun berjalannya waktu membuktikan bahwa umumnya bom-bom terorisme terjadi sebagai respon terhadap kebijakan-kebijajan pemerintah Amerika</p></blockquote>
<p>Tidaklah benar slogan menyesatkan Bush saat setelah peristiwa WTC, yang mengatakan bahwa: &#8220;They hate us because we are beautiful&#8221;. Umat Muslim tidak di ajarkan membenci suatu kaum karena mereka lebih baik, bukan itu, namun karena perbuataan yang jahat (lebih lanjut baca: <a href="http://kaummuslim.net/apakah-islam-mengajarkan-muslim-untuk-membenci-orang-kafir/">Apakah Islam Mengajarkan Muslim Untuk Membenci Kafir?</a>)</p>
<p>Dan Amerika banyak melakukan tindakan yang menyebabkan pihak lain marah, Amerika ingin menjadi polisi dunia, dan mencampuri urusan negara orang lain, jadi itulah konsekuensinya. Perlawan dalam bentuk fisik dari mereka yang merasa di rugikan oleh Amerika sebagai konsekuensi, dan berikut ini lagi-lagi orang Amerika yang sadar dan ber-interospeksi:</p>
<blockquote><p>&#8220;People don&#8217;t sacrifice themselves for no reason. Let&#8217;s find out what it is. And if we did something wrong (no doubt we did) let&#8217;s apologize, ask for forgiveness, and then ask how we can do better.&#8221; (Sumber: <a href="http://www.scripting.com/2001/09/13.html" rel="nofollow">Scripting</a>)</p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Manusia tidak berkorban tanpa alasan. Maka saatnya mencari tahu alasan itu. Dan jika kami melakukan tindakan salah (tidak diragukan lagi kita pasti melakukannya) maka meminta maaflah, minta ampun, dan bertanya kepada mereka bagaimana agar kita melakukannya dengan lebih baik.&#8221;</p></blockquote>
<p>Jadi tidaklah benar anggapan kenapa Muslim membenci orang Amerika. Namun Muslim benci kebijakan politik Amerika.</p>
<p>Allahu a&#8217;llam Bissawab</p>
<p>Muslim</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/kenapa-muslim-benci-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membantah Tuduhan Nabi Muhammad SAW Seorang Pedofilia</title>
		<link>http://kaummuslim.net/membantah-tuduhan-nabi-muhammad-saw-seorang-pedofilia/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/membantah-tuduhan-nabi-muhammad-saw-seorang-pedofilia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 18:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menjawab]]></category>
		<category><![CDATA[Bukan Pedofilia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istri Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Tuduhan]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Orientalis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Nabi Muhammad SAW Seorang Pedofilia? Selama berabad-abad, para orientalis mengumpulkan juga melemparkan tuduhan-tuduhan untuk menjatuhkan keagungan Islam dan nabi terakhirnya, Muhammad SAW. Segala puji hanya kepada Allah (Alhamdulillah), karena semua tuduhan tersebut berkali-kali telah di jawab dengan baik oleh kaum Muslim. Dan beberapa tahun terakhi ini, muncul lagi tuduhan keji terhadap karakter nabi Muhammad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Apakah Nabi Muhammad SAW Seorang Pedofilia?</h3>
<p><a href="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Bukan-Pedofilia.png"><img src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Bukan-Pedofilia.png" alt="" title="Bukan Pedofilia" width="150" height="149" class="alignleft size-full wp-image-19" /></a>Selama berabad-abad, para orientalis mengumpulkan juga melemparkan tuduhan-tuduhan untuk menjatuhkan keagungan Islam dan nabi terakhirnya, Muhammad SAW.<span id="more-8"></span></p>
<p>Segala puji hanya kepada Allah (Alhamdulillah), karena semua tuduhan tersebut berkali-kali telah di jawab dengan baik oleh kaum Muslim. Dan beberapa tahun terakhi ini, muncul lagi tuduhan keji terhadap karakter nabi Muhammad SAW bahwa ia seorang pedofilia, karena pernikahannya dengan Siti Aisyah bin Abi Bakar RA.</p>
<p>Mari kita melakukan pembedahan terhadap tuduhan-tuduhan orientalis secara detail dengan menggunakan pengetahuan modern, bukti historis dan sumber Islam yakni Al Quran dan Sunnah untuk memisahkan antara yang benar dan kebohongan, dan memperlihatkan kepada dunia bahwa nabi Muhammad SAW adalah contoh terbaik bagi umat manusia.</p>
<p>Dan teori hasil dari tuduhan-tuduhan palsu para orientalis yang di gunakan untuk menyerang karakter luhur dari nabi Muhammad SAW karena pernikahannya dengan Siti Aisyah pada usia dini, adalah:</p>
<ul>
<li> Nabi adalah seorang pedofilia</li>
</ul>
<p>Mari bersama kita analisa setiap teori ini untuk menggali kebenaran yang tersembunyi, tentu atas bimbingan Allah SWT.</p>
<p>Nab Muhammad SAW menikahi Aisyah RA, karena beliau seorang pedofilia?</p>
<p>Ada baiknya sebelum menjawab pertanyaan diatas, kita bersama ketahui terlebih dahulu arti dari pedofilia. Silahkan baca:<br />
Definisi dari Pedofilia:</p>
<blockquote><p>&#8220;Pedophile: also spelled PEDOPHILIA, psychosexual disorder in which an adult&#8217;s arousal and sexual gratification occur primarily through sexual contact with prepubescent children. The typical pedophile is unable to find satisfaction in an adult sexual relationship and may have low self-esteem, seeing sexual activity with a child as less threatening than that with an adult.&#8221; Encyclopedia Britannica, 1998</p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Pedofilia adalah disoder psychosexual (disorder orientasi seksual), dimana si penderita penyakit ini menemukan getaran kedewasaan dan kepuasan seksual baru terjadi (terutama) jika melakukan hubungan seksual dengan anak-anak berusia dini. Tipikal dari seorang pedofilia ialah tidak dapat menemukan kepuasaan seksual apabila mereka melakukan hubungan sex dengan orang dewasa dan memiliki rasa minder (rendah diri), mereka menganggap berhubungan dengan anak-anak lebih aman dibanding dengan orang dewasa.&#8221; Encyclopedia Britannica, 1998.</p></blockquote>
<p>Dan penjelasan lainnya:</p>
<blockquote><p>&#8220;pe.do.phil.ia n [NL] (1906): sexual perversion in which children are the preferred sexual object &#8212; pe.do.phil.i.ac or pe.do.phil.ic adj.&#8221; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary</p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<blockquote><p>&#8220;pe.do.phil.ia n [NL] (1906): penyimpangan orientasi seksual dimana anak-anak dijadikan sebagai objek seksual &#8212; pe.do.phil.i.ac or pe.do.phil.ic adj.&#8221; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary</p></blockquote>
<p>Dengan penjelasan dari dua referensi diatas, mari kita bersama lihat usia dan status istri-istri nabi Muhammad SAW:</p>
<p><a href="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Statistik-Istri-Istri-Nabi-Muhammad-SAW.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-14" title="Statistik Istri-Istri Nabi Muhammad SAW" src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Statistik-Istri-Istri-Nabi-Muhammad-SAW.png" alt="" width="496" height="388" /></a></p>
<blockquote><p>Sumber statisk di terjemahkan dari: The Prophet of Islam, the Ideal Husband, by Syed Abu Zafar Zain, Kazi Publications, Lahore, Ist Ed., pg. 10-12</p></blockquote>
<p>Statistik diatas menunjukan pada kita bahwa pernikahan beliau (SAW) dengan Aisyah dengan usia dini merupakan sebuah pengecualian dan bukan sebuah norma dari pernikahan beliau. Lebih lanjut, perlu di ingat bahwa seorang pedofilia tidak akan menemukan kenyamanan dan percaya diri untuk melakukan hubungan dengan orang dewasa, kecuali pada anak-anak, dan hal ini sangat bertentangan dengan nabi Muhammad SAW yang mayoritas istri-istri beliau adalah para janda yang berusia dewasa, hanya Aisyah RA seorang! </p>
<p>Dan sebuah kritik tanpa bias mengenai kehidupan nabi Muhammad SAW dan pernikahannya akan dengan mudah membantah semua tuduhan bahwa beliau dan gaya hidupnya cocok dengan penderita pedofilia. Sekali lagi perlu di ingat, mayoritas istri-istri beliau (SAW) adalah para janda yang sudah dewasa dan sebagian lainnya telah berumur (hanya Aisyah saja yang masih anak-anak).</p>
<p>Kebenaran tentang beliau (SAW) di pelajari dan di terima baik oleh Muslim dan sarjanawan non Muslim yang jujur:</p>
<blockquote><p>&#8220;It is impossible for anyone who studies the life and character of the great Prophet of Arabia, who knows how he taught and how he lived, to feel anything but reverence for that mighty Prophet, one of the great messengers of the Supreme. And although in what I put to you I shall say many things which may be familiar to many, yet I myself feel whenever I re-read them, a new way of admiration, a new sense of reverence for that mighty Arabian teacher.&#8221; – Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras, 1932, p. 4. </p></blockquote>
<p>Artinya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Adalah tidak mungkin bagi siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Nabi agung dari Arab, yang mengetahui apa yang ia ajarkan dan bagaimana ia jalani hidupnya, akan merasakan lain kecuali perasaan hormat terhadap Nabi agung itu, yang adalah salah seorang utusan besar dari Tuhan Semesta Alam. Walaupun apa yang aku sajikan mungkin sudah banyak diketahui, namun aku selalu merasa kagum setiap kali aku membacanya, yakni perasaan kekaguman baru terhadap guru Arab yang agung itu.&#8221;  – Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras, 1932, p. 4. </p></blockquote>
<p>Semoga bermanfaat dan saya ucapkan terima kasih karena telah membacanya!</p>
<p>Allahu a&#8217;llam Bissawab</p>
<p>Muslim</p>
<blockquote><p>Jika pembaca ingin mengkoreksi artikel diatas, apabila ada kesalahan dan sebagainya, silahkan tulis di bagian komentar</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/membantah-tuduhan-nabi-muhammad-saw-seorang-pedofilia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Islam Mengajarkan Muslim Untuk Membenci Orang Kafir?</title>
		<link>http://kaummuslim.net/apakah-islam-mengajarkan-muslim-untuk-membenci-orang-kafir/</link>
		<comments>http://kaummuslim.net/apakah-islam-mengajarkan-muslim-untuk-membenci-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 16:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak Benci Kafir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaummuslim.net/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Muslim membenci seluruh Kafir? Jawaban untuk pertanyaan diatas ialah: TIDAK! Seluruh umat Islam tidak membenci Kafir. Muslim diseluruh dunia tidak membenci non Muslim hanya karena mereka Kafir, kami dilarang membenci kaum kafir tanpa alasan benar atau jika mereka memerangi baru kami balas. Kafir bukanlah musuh secara lahiriah bagi umat Muslim, namun tindakan mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Apakah Muslim membenci seluruh Kafir?</h3>
<p><a href="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Islam-Damai.png"><img class="alignleft size-full wp-image-6" title="Islam Damai" src="http://kaummuslim.net/wp-content/uploads/2010/08/Islam-Damai.png" alt="" width="150" height="108" /></a>Jawaban untuk pertanyaan diatas ialah: TIDAK! Seluruh umat Islam  tidak membenci Kafir. Muslim diseluruh dunia tidak membenci non Muslim  hanya karena mereka Kafir, kami dilarang membenci kaum kafir tanpa  alasan benar atau jika mereka memerangi baru kami balas.<span id="more-4"></span></p>
<p>Kafir bukanlah musuh secara lahiriah bagi umat Muslim, namun tindakan  mereka yang membahayakan adalah musuh umat Islam. Jadi Kafir secara  tindakan (jahat) adalah musuh. Seperti teredaksi dalam sebuah ayat yang  berhubungan dengan bahasan ini:</p>
<blockquote><p>Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku  adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak  (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai  orang-orang yang berlaku adil. (Qs 60:8)</p></blockquote>
<p>Ayat Quran diatas sangatlah jelas memerintahkan kepada setiap umat  Muslim agar berlaku baik pula adil biarpun terhadap seorang kafir. Dan  ada pula sebuah hadis Rasulullah sebagai gandengan ayat diatas:</p>
<blockquote><p>“…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (Hr Ahmad, Tirmidzi, Darimi).</p></blockquote>
<p>Dalam hadis ini nabi Muhammad SAW tidak menyebutkan <em>“pergaulilah umat Mukmin atau Muslim”</em> namun <em>“Manusia”</em>,  artinya semua golongan, agama dan ras wajib hukumnya di pergauli dengan  ahlak yang baik sehingga mereka dapat merasakan Islam sebagai rahmat  bagi seluruh alam.</p>
<p>Dalam beberapa hadis Nabi besar Muhammad SAW mewanti umatnya agar  berlaku baik pada kafir, bahkan mengancam bagi siapapun umatnya yang  berlaku buruk kepada mereka. Dan peringatan Rasulullah tersebut di catat  dalam sejumlah hadis. Agar lebih jelas saya sebutkan hadis-hadis saya  maksud, yakni:</p>
<blockquote><p>“Barangsiapa yang mengganggu seorang kafir dzimmi maka  aku yang menjadi lawannya nanti pada hari kiamat!”. [HR. Al Khathib  dalam At Tarikh dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu dengan sanad shahih]</p></blockquote>
<p>Bahkan menganggu kafir kita dilakukan dan bagi mereka yang begitu,  akan berhadap dengan Rasul sebagai lawannya di hari akhir, Naudzubillah.</p>
<p>Dan jika seorang Muslim membunuh kafir Mu’aahad maka ia tidak akan mencium aroma surga:</p>
<blockquote><p>“Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’aahad maka  dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (padahal) sesungguhnya  aroma wangi al Jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40  tahun.” [HR. Al Bukhari 3166, 6914; An Nasaa-i 4764; Ibnu Majah 2736;  Ahmad V/36]</p></blockquote>
<p>Tidak hanya itu, kita juga wajib memberlikan perlindungan kepada orang Musrikin jika mereka meminta perlindungan:</p>
<blockquote><p>“…Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin itu meminta  perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar  firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya…”[QS.  At Taubah 9:6]</p></blockquote>
<p>Sekali lagi saya ingatkan, bahwa Islam dan umatnya tidak membenci  kafir. Hanya kafir yang memerangi Islam dan umatnya yang wajib di  perangi. Lihat ayat Al Quran berikut mengenai syarat perang yang  digariskan Al Quran Al Karim kepada umat Islam:</p>
<blockquote><p>“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi  kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya  Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Qs 2:190].</p></blockquote>
<p>Dan umat Islam juga di perintahkan berdamai dengan kafir yang memerangi jika mereka meminta perdamaian:</p>
<blockquote><p>Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan  kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi  jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan  perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk  menawan dan membunuh) mereka. (An Nisaa (4) :91 )</p></blockquote>
<p>Umat Islam di perintahkan untuk bergaul dan bersosialisasi kepada  siapapun tanpa pandang latar belakang suku, ras, agama dan apapun.  Seperti teredaksi dalam surat:</p>
<blockquote><p>“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari  seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa –  bangsa dan bersuku-suku supaya <strong>kamu saling kenal-mengenal</strong>.”(Qs 49: 13)</p></blockquote>
<p>Bisa kita saksikan disini tertulis agar saling kenal-mengenal – bukan  saling bunuh-membunuhi – jajah-menjajah. Namun umat Islam diperintahkan  saling kenal-mengenal, dan berlaku dengan ahlak yang baik kepada  mereka, seperti ahlak yang dicontohkan nabi besar Muhammad SAW.</p>
<p>Tidak hanya kepada orang kafir kami dilarang membenci, mengganggu  pula memusuhi bahkan terhadap sesembahan mereka kami dilarang keras  menghina dan mengoloknya, seperti tertulis pada  surat Al An’am ayat 108  Al Quran berikut ini:</p>
<blockquote><p>“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka  sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan  melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat  menganggap baik pekerjaan mereka.</p></blockquote>
<p>Jadi tidak benar tuduhan sebagian orang bahwa Islam adalah ajaran  yang membenci kafir dan bernafsu ingin membunuhi mereka, karena tuduhan  itu hanyalah tuduhan kosong dan tidak berlandas sama sekali, kecuali di  lumuri dengan kebencian amat sangat terhadap agama Allah SWT.</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan saya ucapkan terima kasih sudah membacanya:)</p>
<p>Allahu A’llam Bissawab.</p>
<p>Muslim</p>
<blockquote><p>Jika pembaca ingin mengkoreksi artikel diatas, apabila ada kesalahan dan sebagainya, silahkan tulis di bagian komentar</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaummuslim.net/apakah-islam-mengajarkan-muslim-untuk-membenci-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
